 | Bingkai | Sep 28, 2007 |
25 September 4 Photos, 1 comment
4 September 4 Photos, 7 comments
Rupa-rupa Kopi 4 Photos, 3 comments
Memandu FGD untuk Penyiapan KPT Aceh Barat 7 Photos, 2 comments
|
  | Beranda Kedai | Jul 22, 2007 |
Sore di Kedai Kopi Sore di kedai kopi, empat manusia membuat sajak bersama Tuhan. Di jalanan mobil-mobil memburu Tuhan. Bunga-bunga dari taman beda tumbuh dan mekar sore hari. Di kedai kopi. "Pak, kopi tanpa gula." Dan dihidangkan beribu malaikat membawa catatan bisu dalam waktu; tak bersayap-sayap berpakaian. Sajak pertama adalah cinta, angin yang menggugur daun debu yang menyisir mega senja Sajak terakhir tentang hening sebab segala puncak adalah diam. Ribut Wijoto, 1997
 |  | Curah | Aug 28, 2007 |
Satu pertanyaan yang menggelitik sejak 8 tahun lalu: siapakah tokoh yang bisa memperbaiki kerusakan yang sudah dibuat puluhan tahun oleh rezim otoriter Orde Baru? Sayangnya ini belum juga terjawab. Masa konsolidasi demokrasi yang belum juga... more
  | Ulasan | Jul 23, 2007 |
 Perjumpaan Islam dan Demokrasi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, PPIM, Yayasan Wakaf Paramadina, Freedom Institute, Kedutaan Besar Denmark Cetakan: I, 2007 Tebal: 367 Halaman Sejarah perkembangan ideologi politik umat manusia akan berakhir... more
  | Sambung Menyambung | |
  | Music | Feb 26, 2008 |
    |  |   | Buku Tamu | |
 |
Trims atas kunjungannya. Benar-benar diperiksa semua. Ada komen? Apa sanak asal Tanah Datar? Di mana domisili kini? |
 |
salam .....dari nanggro aceh ....hanya sekedar info....kami sekarang ada di kota tangerang. |
 |
Di Ruangan Itu
di dasar ruang hatimu kutanam sunyi
sebuah tempat yang selalu bisa kudatangi
kapan saja aku mau termangu
hari ini aku datang ke situ
memandangi kamu yang galau
lalu aku tulis sebuah sajak yang tak selesai
kuletakkan di salah satu dindingnya
kau boleh melengkapinya kapan saja
atau membiarkannya basah sendirian
dengan tetes airmatamu
Jumat. 17 Oktober 2008 Magnet Zone kedatangan tamu istimewa. Diawali dengan perjumpaan lewat multiply, salah seorang penulis puisi yang namanya tengah melambung di dunia sastra tanah air, bersedia mengungjungi café buku kami. Epri Tsaqib saat itu sebenarnya sedang ada acara launching dan bedah buku kumpulan puisi-nya yang pertama, “Ruang Lengang” di Surabaya. Namun kami tidak mau menyia-nyiakan “ruang lengang” yang hadir di hadapan. Mumpung Mas Epri ada di Surabaya dan tidak terlalu banyak acara (di Surabaya memang tidak, namun di Jawa Timur Mas Epri sibuk sekali. Setelah dari Suraya, beliau harus ngisi di Malang, lalu Madura), maka kami “comot” lah penyair muda yang mempunyai bisnis online www.geraibuku.com ini.
Menarik sekali, di saat sebagian besar warga Surabaya berjibaku dengan pekerjaannya, Magnet Zone, Café Buku pertama di Surabaya justru mengajak sebagian komunitas kepenulisan (FLP, Alpen Prosa dan Komunitas Esok) di Kota Pahlawan untuk mendedah “Ruang Lengang” seorang Epri Tsaqib pada jam kerja. Ya, mereka kami undang pada jam 1 siang. Format acaranya juga tidak kalah menarik dengan pemilihan waktunya, “Makan Siang Bersama Epri Tsaqib”. Kami sadar, adalah suatu hal yang absurd jika di hari sesiang itu para peserta hanya diajak berpikir serius tentang puisi, tentu kurang asyik. Lagipula pada tanggal 18 Oktober jam 18.30 teman-teman Komunitas Esok akan meng-cover acara yang lebih serius untuk mendedah karya Mas Epri yang akan diterjemahkan dalam 4 bahasa (Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol) dan sudah dicetak untuk yang ke-2 kalinya. Sebuah perjalanan yang tidak mudah untuk sebuah karya sastra berupa puisi mengingat, kata mas Epri, “dunia puisi adalah dunia yang sangat sepi…”.
Magnet Zone memang sengaja membatasi jumlah peserta sebab acara makan siang ini bukan acara yang terlalu formal. Kami hanya berbincang santai. Perbincangan berlangsung dengan gayeng. Mas Epri banyak melemparkan joke-joke segar. Sebagian peserta yang berasal dari komunitas kepenulisan di Surabaya menanyakan mengapa memilih puisi sebagai media penyampaian hasrat jiwa dan keinginan hati? Bukankah puisi dunia yang sepi? Penyair yang juga menjadi pendiri Komunitas Puisi FLP ini menjawab secara praktis, “Karena lingkungan pergaulan saya adalah lingkungan kepenyairan dan puisi sehingga otomatis saya banyak terbawa suasana lingkungan saya”. Ada juga peserta yang menanyakan, “mengapa buku kumpulan puisi ini diberi judul Ruang Lengang dan segmentasi pasarnya siapa?”. “Saya ingin memberikan ruang lengang untuk diisi apapun dan oleh siapapun, terserah mereka mau mengisi apa. Terus-terang kalau untuk buku puisi, agak sepi, tidak seramai cerpen apalagi novel, namun itu semua bisa disiasati dengan marketing yang bagus sehingga selera pasar bisa dibentuk”, jawabnya. Sadangkan untuk pertanyaan, “apa tujuan utama ditulisnya buku ini?, dengan santun Mas Epri berkata, “untuk diri saya sendiri, memberikan pencerahan kepada diri saya sendiri, sebab saya belum bisa memberi pencerahan kepada orang lain. Tapi kalau buku ini berhasil memberi pencerahan dan berdampak positif terhadap orang lain, ya Alhamdulillah…”.
Menu makan siang mungkin cuma nasi goreng, yang tentunya sudah sering dinikmati oleh seluruh peserta sebab ini menu yang biasa terhidang di meja makan rakyat Indonesia. Namun ilmu dan informasi serta momen yang diperoleh tentu tidak sebanding dengan menu makan siang yang disuguhkan. Dan kami yakin, menu puisi yang kami suguhkan tidak setiap saat bisa hadir di meja kita. Jadi, mari kita manfaatkan “Ruang Lengang” Epri Tsaqib.
Dapatkan Buku Kumpulan Puisi "RUANG LENGANG" Epri Tsaqib di Magnet Zone dengan discount 15% (Rp 25.500) . Datang langsung ke Magnet zone, Cafe Bookstore pertama di Surabaya JL. BKR Pelajar No.30 (depan SMU 9) atau telpon/FAX ke 031-5323212, bisa juga menghubungi MBAK WAHYU 0856-449-34525
|
 |
Wah udah sampai pula aku di kedai kopi yang indah dan nyaman ini. terima kasih mas udah mampir di MP aku. Salam sukses selalu... |
 |
Bos, apa Sampean ga kangen Surabaya? Di Aceh, media apa yang menerima tulisan esai sastra? Jika ada, kasih tau emailnya dong.. Fitrah tuh orang paling lucu yang paling kukenal. Salam balik padanya. Thanks. Ribut Wijoto |
  | Kontak | |
    |
| |